
Ketika
berobat ke rumah sakit dengan BPJS, banyak pasien mungkin tidak menyadari bahwa
proses administrasi di balik klaim layanan kesehatan bisa sangat rumit. Salah
satu masalah yang sering muncul adalah keterlambatan pencairan klaim.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa 35% klaim BPJS di Indonesia tertunda
karena dokumen rekam medis tidak lengkap (Kristiawan dkk., 2025).
Mengapa Rekam Medis Penting?
Rekam
medis bukan hanya catatan riwayat kesehatan pasien, tetapi juga dokumen hukum
dan administratif yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim biaya ke
BPJS. Jika ada kesalahan atau kelengkapan data yang kurang, klaim bisa
tertahan, bahkan ditolak (WHO, 2018).
Di
tingkat global, masalah ini bukan hanya milik Indonesia. Diperkirakan 65%
negara anggota WHO masih menghadapi kendala integrasi sistem informasi
kesehatan, yang berujung pada kerugian finansial mencapai 300 miliar dolar AS
per tahun (WHO, 2018).
Studi di Rumah Sakit Bandung Barat
Penelitian
yang dilakukan di salah satu rumah sakit swasta di Kabupaten Bandung Barat
mencoba menilai efektivitas Sistem Informasi Manajemen Rekam Medis
(SIMRM) menggunakan kerangka Health Metric Network (HMN).
Sebanyak 22 petugas rekam medis menjadi responden dalam studi ini (Kristiawan
dkk., 2025).
Hasilnya
cukup mengkhawatirkan. Sistem yang ada memang sudah berjalan, tetapi masih
berada pada kategori “ada tapi belum memadai” dengan nilai capaian
sekitar 59%. Artinya, sistem belum mampu menjawab kebutuhan rumah sakit
dalam mempercepat dan menjamin kelancaran klaim BPJS.
Di Mana Letak Masalahnya?
Beberapa
kendala yang ditemukan antara lain:
1. Keterbatasan SDM dalam mengoperasikan sistem.
2. Keterhubungan sistem yang lemah, sehingga data rekam medis tidak selalu sinkron.
3. Kurangnya Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam pengelolaan dokumen klaim.
Situasi ini membuat proses pengajuan klaim sering memakan waktu lama, bahkan merugikan rumah sakit dari sisi keuangan dan pelayanan pasien.
Harapan ke Depan
Meski
demikian, penelitian ini juga memberi arah perbaikan. Dengan memperkuat
pelatihan SDM, memperbaiki infrastruktur sistem informasi, serta menyusun SOP
yang jelas, SIMRM bisa berkembang menjadi sistem yang lebih efisien dan andal.
Jika langkah ini dilakukan, manfaatnya akan terasa langsung oleh pasien: klaim
BPJS lebih cepat, pelayanan lebih lancar, dan rumah sakit tidak dirugikan.
Menutup Catatan
Di
era digital, rekam medis seharusnya bukan lagi sekadar tumpukan kertas, tetapi
alat vital untuk menjamin hak pasien sekaligus keberlangsungan sistem
pembiayaan kesehatan. Perjalanan memang belum sempurna, tetapi penelitian ini
menunjukkan arah jelas menuju sistem informasi kesehatan yang lebih baik
dan manusiawi.
Daftar Referensi
Kristiawan,
H., Parulian, A. A., Firmansyah, Y. W., & Prasaja, B. J. (2025). Asesmen
Sistem Informasi Manajemen Rekam Medis pada Klaim Rawat Jalan BPJS dengan
Health Metric Network. Lontara Journal of Health Science and Technology,
6(1), 62–81. https://doi.org/10.53861/lontarariset.v6i1
World
Health Organization (WHO). (2018). WHO Health Data Governance Summit
Report. Geneva: WHO.
Dipublikasikan : 2025-10-31 13:03:54
Writer : Ns Siti Hardiyanti, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.K
Published : 2026-01-23 09:34:09
Writer : Ns Siti Hardiyanti, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.K
Published : 2025-12-18 15:18:20
Writer : Yura Witsqa Firmansyah, S.K.M., M.Kes
Published : 2025-10-31 13:03:54
Writer : Iswati, S.Kep.,Ns.,M.Kep
Published : 2025-10-07 15:18:57
Writer : Hilda Dea Revani, S.Ft., Ftr., M.Kes
Published : 2025-09-19 15:47:56
Writer : Dina Istiana, S.Kep., Ns., M.Kep
Published : 2025-08-01 11:09:49
Writer : Dwi Yuniar Ramadhani, S.Kep.Ns, M.Kep
Published : 2025-06-11 15:25:36
Writer : Fitriatul Jannah, S.Kep., Ns., M.Kep.
Published : 2025-05-05 10:37:37
| Next » | Last |
Sebagai tempat praktik klinik mendukung mahasiswa STIKes Adi Husada dalam mengembangkan ilmu keperawatan menjadikan seorang perawat profesional dan mampu bersaing, Rumah Sakit Adi Husada Undaan Wetan melakukan seleksi penerimaan tenaga kesehatan perawat untuk lulusan STIKes Adi Husada.