Pada beberapa tahun terakhir, istilah hustle culture atau budaya kerja keras tanpa henti semakin populer di kalangan generasi muda. Gaya hidup ini sering digambarkan sebagai semangat produktif, penuh ambisi, dan selalu ingin meraih banyak pencapaian. Bagi sebagian mahasiswa, hal ini dianggap sebagai jalan menuju kesuksesan. Namun di balik kesan positif tersebut, hustle culture menyimpan dampak negatif yang tidak bisa diabaikan, terutama terhadap kesehatan mental. Mahasiswa merupakan kelompok yang rentan mengalami tekanan. Tuntutan akademik, kesibukan organisasi, hingga ekspektasi sosial membuat mereka kerap merasa harus terus aktif setiap saat. Media sosial pun memperkuat gambaran bahwa “sibuk berarti sukses”, sehingga banyak mahasiswa terdorong bekerja tanpa mengenal batas waktu. Kondisi ini sering berujung pada perasaan cemas, kelelahan, bahkan hilangnya keseimbangan antara belajar, bersosialisasi, dan menjaga kesehatan diri. Fenomena tersebut dapat memicu berbagai masalah kesehatan mental seperti stres, kecemasan, hingga burnout. Stres muncul karena tekanan untuk selalu produktif, kecemasan hadir akibat perbandingan diri dengan orang lain yang terlihat lebih berhasil, dan burnout terjadi ketika tubuh serta pikiran sudah kehabisan energi. Jika dibiarkan, semua ini tentu dapat menurunkan kualitas hidup mahasiswa. Oleh sebab itu, penting untuk menerapkan strategi manajemen diri, misalnya menyusun jadwal yang realistis, memberikan ruang istirahat yang cukup, serta melakukan aktivitas menyenangkan sebagai bentuk self-care. Dukungan dari teman, keluarga, maupun konselor kampus juga berperan besar dalam menjaga keseimbangan mental mahasiswa. Pada akhirnya, hustle culture memang bisa menjadi motivasi untuk berprestasi, tetapi jika dijalani berlebihan justru akan merugikan diri sendiri. Mahasiswa perlu belajar menyeimbangkan ambisi dengan kebutuhan akan kesehatan fisik dan mental. Dengan cara ini, mereka tidak hanya mampu meraih pencapaian akademik, tetapi juga dapat menikmati kualitas hidup yang lebih sehat, bahagia, dan berkelanjutan. REFERENSI Assariy, M. Z., Hersari, N. I., Sitorus, N. A., Arifin, S., & Faisal, F. (2024). Literature review: The influence of hustle culture on mental health. AIP Conference Proceedings, 3048, Article 020024. https://doi.org/10.1063/5.0201952 Maharani, M., Martono, & Rizkidarajat. (2024). Prevalence and motivation of hustle culture behaviour among high school students. International Journal of Humanities and Social Science Invention, 13(9), 129–132. https://doi.org/10.35629/7722-1309101107 WellRight. (2025). Hustle culture and mental health: Overcoming the toxic grindset at work. WellRight. 
Dipublikasikan : 2026-05-11 11:06:50
Writer : Firnanda Erindia, S. Kep., Ns., M. Kep
Published : 2026-05-11 11:06:50
Writer : Dr. Yura Witsqa Firmansyah, S.K.M., M.Kes
Published : 2026-04-20 08:49:13
Writer : Novita Fajriyah, S.Kep., Ns., M.Kep
Published : 2026-03-27 07:46:56
Writer : Dr. Yura Witsqa Firmansyah, S.K.M., M.Kes
Published : 2026-03-09 13:19:05
Writer : Ns. Siti Hardiyanti, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.K
Published : 2026-02-13 09:40:41
Writer : Ns Siti Hardiyanti, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.K
Published : 2026-01-23 09:34:09
Writer : Ns Siti Hardiyanti, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.K
Published : 2025-12-18 15:18:20
Writer : Yura Witsqa Firmansyah, S.K.M., M.Kes
Published : 2025-10-31 13:03:54
| Next » | Last |
Sebagai tempat praktik klinik mendukung mahasiswa STIKes Adi Husada dalam mengembangkan ilmu keperawatan menjadikan seorang perawat profesional dan mampu bersaing, Rumah Sakit Adi Husada Undaan Wetan melakukan seleksi penerimaan tenaga kesehatan perawat untuk lulusan STIKes Adi Husada.