Perkembangan teknologi digital membawa banyak manfaat, mulai dari memudahkan komunikasi, mencari informasi, hingga hiburan. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada juga dampak negatif yang tidak bisa diabaikan. Saat ini muncul beberapa fenomena baru yang berkaitan dengan cara kita menggunakan media sosial dan internet, yaitu doomscrolling, FOMO (Fear of Missing Out), dan tekanan sosial. Ketiga hal ini sering dialami oleh generasi digital, terutama anak muda, dan tanpa disadari dapat memengaruhi kesehatan mental serta kualitas hidup sehari-hari. Doomscrolling adalah kebiasaan tidak bisa berhenti menggulir layar ponsel untuk membaca berita atau informasi, terutama yang bernuansa negatif. Misalnya, seseorang terus membaca berita tentang bencana, kriminalitas, atau isu politik sampai larut malam. Awalnya hanya ingin tahu, tetapi akhirnya membuat cemas, sulit tidur, bahkan menurunkan semangat di keesokan harinya. Fenomena ini semakin sering terjadi sejak pandemi COVID-19, ketika orang merasa harus selalu update informasi. FOMO atau fear of missing out adalah rasa takut tertinggal informasi atau pengalaman yang sedang dialami orang lain. Contohnya, saat melihat teman liburan, membeli barang baru, atau mendapat prestasi tertentu di media sosial, muncul rasa iri dan tidak puas dengan kehidupan sendiri. Hal ini membuat sebagian orang memaksakan diri mengikuti tren, walaupun tidak sesuai kebutuhan atau kemampuan. Jika dibiarkan, FOMO bisa menimbulkan kecemasan, rasa tidak percaya diri, bahkan membuat hidup terasa tidak cukup. Selain itu, ada juga tekanan sosial yang muncul akibat standar dan ekspektasi dari lingkungan sekitar, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Banyak orang merasa harus tampil sempurna, mengikuti gaya hidup tertentu, atau mencapai kesuksesan tertentu agar diterima oleh lingkungannya. Tekanan ini bisa membuat seseorang kehilangan jati diri, stres, hingga merasa tertekan karena selalu membandingkan diri dengan orang lain. Meskipun ketiga fenomena ini cukup mengkhawatirkan, sebenarnya ada cara untuk mengatasinya. Langkah pertama adalah meningkatkan kesadaran bahwa tidak semua hal di media sosial mencerminkan kenyataan. Kedua, membatasi penggunaan ponsel dengan mengatur waktu layar dan sesekali melakukan digital detox atau istirahat dari media sosial. Ketiga, belajar bersyukur dan lebih fokus pada kehidupan nyata, misalnya dengan melatih mindfulness atau menikmati momen bersama orang terdekat. Keempat, membangun rasa percaya diri agar tidak mudah terpengaruh tekanan dari luar. Dan terakhir, jangan ragu untuk mencari dukungan positif, baik dari keluarga, sahabat, maupun tenaga profesional bila merasa terlalu terbebani. Kesimpulannya, doomscrolling, FOMO, dan tekanan sosial adalah tantangan nyata yang dihadapi masyarakat di era digital. Jika dibiarkan, ketiganya bisa berdampak buruk pada kesehatan mental dan kesejahteraan hidup. Namun, dengan kesadaran dan langkah-langkah sederhana seperti mengatur waktu, mengurangi perbandingan sosial, serta menjaga kesehatan mental, kita bisa tetap memanfaatkan teknologi secara positif tanpa harus terjebak pada dampak negatifnya. Referensi Saidah IS, Aryani A. Doomscrolling behavior among Indonesian adolescents: Psychological correlates and digital media usage patterns. J Couns Psychother Res. 2025;1(1). Available from: https://doi.org/10.111322/pf7tdb83 Rodrigues EV. Doomscrolling – threat to mental health and well-being: A review. Int J Nurs Res. 2023 Jul;8(4):127–30. doi:10.31690/ijnr.2022.v08i04.002 Jiang L, Xu Q, et al. Depression, anxiety and fear of missing out as correlates of social, non-social and problematic smartphone use. Comput Human Behav. 2020; Available from: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32062337/ Savitri JA. Impact of fear of missing out on psychological well-being among emerging adulthood aged social media users. Psychol Res Interv. 2019. 2(2):23–30. Available from: https://doi.org/10.21831/pri.v2i2.30363 Hayran C, Anik L. Well-being and fear of missing out (FOMO) on digital content in the time of COVID-19: A correlational analysis among university students. Int J Environ Res Public Health. 2021 Feb;18(4):1974. doi:10.3390/ijerph18041974 
Dipublikasikan : 2026-06-11 16:30:02
Writer : Hilda Dea Revani S.ft., Ftr., M.Kes
Published : 2026-07-14 13:33:11
Writer : Firnanda Erindia, S. Kep., Ns., M. Kep
Published : 2026-06-11 16:30:02
Writer : Firnanda Erindia, S. Kep., Ns., M. Kep
Published : 2026-05-11 11:06:50
Writer : Dr. Yura Witsqa Firmansyah, S.K.M., M.Kes
Published : 2026-04-20 08:49:13
Writer : Novita Fajriyah, S.Kep., Ns., M.Kep
Published : 2026-03-27 07:46:56
Writer : Dr. Yura Witsqa Firmansyah, S.K.M., M.Kes
Published : 2026-03-09 13:19:05
Writer : Ns. Siti Hardiyanti, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.K
Published : 2026-02-13 09:40:41
Writer : Ns Siti Hardiyanti, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.K
Published : 2026-01-23 09:34:09
| Next » | Last |
Sebagai tempat praktik klinik mendukung mahasiswa STIKes Adi Husada dalam mengembangkan ilmu keperawatan menjadikan seorang perawat profesional dan mampu bersaing, Rumah Sakit Adi Husada Undaan Wetan melakukan seleksi penerimaan tenaga kesehatan perawat untuk lulusan STIKes Adi Husada.